Kamis, 28 Juni 2012

Manusia dan Harapan


Manusia dan Harapan
Setiap individu memiliki, paling tidak satu, harapan. Seseorang tanpa harapan, bisa dikatakan ia ekuivalen dengan mati. Bahkan, orang yang meninggal — lebih tepatnya, akan meninggal – sekalipun memiliki harapan, yang berupa pesan-pesan kepada pewarisnya atau semacamnya.
Harapan bersal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi. Sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan demikian, harapan tentunya menyangkut masa depan. Berhasil atau tidaknya sebuah harapan bergantung pada usaha orang yang memiliki harapan tersebut. Harapan harus berdasarkan pada kepercayaan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap Tuhan YME. Untuk mewujudkan sebuah harapan, dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh tak lupa disertai dengan do’a kepada Tuhan YME.
Menurut kodratnya, manusia adalah makhluk sosial. Setiap lahir ke dunia, manusia langsung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yaitu di suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Ditengah-tengah masyarakat itulah seseorang berkembang dan saling berinteraksi, sehingga muncullah sebuah harapan. Ada dua hal yang mendorong orang hidup bergaul dengan manusia lain, yaitu dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.
Dorongan kodrat. Kodrat ialah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri setiap manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan YME. Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau harapan, misalnya menangis, tertawa, bergembira, dll. Selain manusia, kodrat juga dimiliki oleh binatang dan tumbuhan, karena binatang dan tumbuhan memerlukan makanan dan akhirnya akan mati. Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat, pembawaan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat atau hidup bersama dengan manusia lainnya. Dengan kodrat ini, manusia memiliki harapan.
Dorongan kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup menyangkut kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani menyangkut kebutuhan fisik seperti makan, minum, pakaian, rumah, ketenangan, dll. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka manusia bekerjasama dengan manusia lainnya. Karena kemampuan manusia sangatlah terbatas, maka manusia juga disebut sebagai makhluk sosial. Dengan dorongan ini pula, manusia memiliki harapan.
Berbagai usaha dilakukan manusia untuk meningkatkan rasa percaya kepada Tuhannya. Usaha itu bergantung kepada pribadi kondisi, situasi, dan lingkungan. Usaha itu antara lain :
1.      Meningkatkan ketaqwaan kita dengan jalan meningkatkan ibadah
2.      Meningkatkan pengabdian kita kepada masyarakat
3.      Meningkatkan kecintaan kita kepada sesame manusia dengan jalan suka menolong, dermawan, dan sebagainya.
4.      Menurangi nafsu mengumpulkan harta yang berlebihan
5.      Menekan perasaan negative, seperti, iri, dengki, fitnah, dan sebagainya.
Dapat disimpulkan bahwa selama manusia masih hidup, manusia selalu mempunyai perasaan berharap. Manusia melakukan berbagai macam cara untuk meraih harapannya. Kadangkala, seseorang gagal dalam meraih apa yang diharapkan sehingga menimbulkan beban mental pada dirinya sendiri. Tetapi, sesungguhnya  kegagalan merupakan awal kesuksesan yang tertunda. Untuk meraih harapan, kita harus terus berusaha sampai apa yang kita cita – citakan tercapai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar