Manusia dan kegelisahan selalu tidak
bisa dipisahkan. Sepanjang hidup manusia pasti pernah disertai dengan
kegelisahan. Karena kegelisahan itu
merupakan unsur hidup manusia. Manusia selalu gelisah ketika sesuatu yang
benar-benar direncanakannya dengan matang. Kegagalan, kekecewaan yang
menghantui manusia selalu disertai dengan kegelisahan. Memang sebenarnya
kegelisahan itu apa sih?? Berani-beraninya dia mengikuti kita kemana kita
berada.
Sebenarnya kegelisahan itu jika dilihat
dari bahasanya adalah tidak tenteram hatinya, selalu merasa khawatir, tidak
tenang, tidak sabar, cemas. Banyak penyebab dari kegelisahan itu sendiri.
Apakah seseorang gelisah karena kuatir terhadap seseorang yang disayangnya?
Ataukah seseorang gelisah karena telah melakukan sesuatu? Atau gelisah karena
sebab lain.
Kegelisahan sangat berdampak negatif
bagi kehidupan seseorang. Akibat seseorang gelisah bisa berdampak parah seperti
sakit, malah lebih parah. Jika sakit biasa bisa dideteksi dan diketahui oleh
dokter, tapi sakit karena gelisah tidak dapat dan sulit sekali diketahui,
sehingga terkadang orang bisa mengira orang tersebut mati tanpa sebab.
Tapi kegelisahan dapat pula berdampak
positif bagi diri sendiri maupun orang lain. Selama kita tidak menyerah dalam
kegelisahan itu maka kegelisahan akan berdampak positif bagi kehidupan kita.
Pernah ada cerita di baghdad tentang
kisah si Abunawas yang cerdik dan lucu yang seumur hidupnya selalu dipenuhi
dengan kegelisahan dan tantangan, karena seumur hidupnya ia selalu ditantang
dan dijebak oleh raja. Dan ia mampu mengubah kegelisahannya menjadi hal yang
menguntungkan dirinya. Oleh karena itu berikut saya akan kisahkan kisah salah
satu cendikiawan kocak bernama Abu Nawas itu.
Pada suatu hari, Abu Nawas berjalan-jalan
hingga ke kampung Badui di daerah gurun jauh dari kota tempat tinggalnya.
Sesampainya di tempat tersebut, ditemuinya ada beberapa orang yang sedang
memasak bubur, susananya ramai sekali. Tanpa disadarinya, ia ditangkap oleh
orang-orang itu dan dibawa ke rumah mereka untuk disembelih.
"Kenapa aku ditangkap?" tanya
Abunawas.
"Wahai orang asing, setiap orang
yang lewat di sini pasti akan kami tangkap, kami semebelih seperti kambing dan
dimasukkan ke belanga bersama adonon tepung itu. Inilah pekerjaan kami dan
itulah makanan kami sehari-hari," jawab salah seorang dari mereka sambik
menunjuk ke belanga yang airnya mendidih.
Abu Nawas ketakutan juga, namun meski
keadaan sedang terjepit, dia masih sempat berpikir jernih. "Kalian lihat
saja, badanku kurus kering, jadi dagingku tak banyak, kalau kalian mau besok
aku bawakan temanku yang badannya gemuk sehingga bisa kalian makan untuk lima
hari lamanya. Aku janji, maka tolong lepaskan aku," pinta Abu Nawas.
Karena janjinya itu, Abunawas akhirnya dilepaskan.
Di sepanjang jalan Abu Nawas berpikir
keras untuk menemukan siasat agar dirinya berhasil membawa teman yang gemuk.
Terlintas olehnya Baginda Raja.
"Seharusnya Raja tahu akan berita
yang tidak mengenakkan ini, dan alangkah baiknya kalau Baginda Raja mengetahui
sendiri," gumannya dalam hati.
Abu Nawas segera saja masuk ke dalam
istana untuk menghadap Raja.
Dengan berbagai bujuk rayu, akhrinya
Abunawas berhasil mengajak Baginda Raja ke kampung badui tersebut.
Sesampainya di kampung badui tersebut,
si pemilik rumah tanpa banyak bicara langsung saja menangkapnya. Abu nawas
segera meninggalkan tempat itu dan dalam hati dia berpikir,
"Bila Raja pintar, pasti niscaya
dia akan bisa membebaskan diri. Tapi kalau bodoh, akan matilah ia karena akan
disembelih orang jahat itu."
Sementara itu, didalam rumah Baginda
tidak menyangka akan disembelih.
Dengan takutnya dia berkata,
"Jika membuat bubur, dagingku ini
tidaklah banyak karena banyak lemaknya. Tapi jika kalian izinkan, kalian akan
aku buatkan peci kemudian dijual yang harganya jauh lebih mahal ketimbang harga
buburmu itu."
Akhirnya mereka menyetujuinya.
Baginda telah beberapa hari tidak
terlihat di istananya, ia bekerja keras untuk membuat peci untuk orang badui
itu. Namun pada akhirnya beberapa ke depan Baginda dibebaskan oleh para
pengawalnya.
Setelah Baginda dibebaskan, barulah Abu
Nawas dipanggil untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.
Abunawas dianggap telah mempermalukan
rajany di muka rakyatnya sendiri.
"Wahai Abu Nawas, engkau ini
benar-benar telah mempermalukan aku, perbuatanmu sungguh tidak pantas dan kamu
harus dibunuh," ujar Raja Harun geram.
"Ya Tuanku, sebelum hamba dihukum,
perkenankan hamba menyampaikan beberapa hal," kata Abu Nawas membela diri.
"Baiklah, tetapi kalau ucapanmu
salah, niscaya engkau akan dibunuh hari ini juga," ujar Baginda Raja.
"Wahai Tuanku, alasan hamba menyerahkan
kepada si penjual bubur itu adalah ingin menunjukkan kenyataan di dalam
masyarakat negeri ini kepada paduka. Karena semua kejadian di dalam negeri ini
adalah tanggung jawab baginda kepada Allah SWT kelak. Raja yang adil sebaiknya
mengetahui perbuatan rakyatnya," kata Abu Nawas.
Setelah mendengar ucapan Abu Nawas yang
demikian, hilanglah rasa amarah baginda Raja. Dalam hati beliau membenarkan
ucapan Abunawas tersebut.
"Baiklah, engkau aku ampuni atas
semua perbuatanmu dan jangan melakukan perbuatan seperti itu lagi
kepadaku," tutur baginda raja.
Demikianlah kisah kegelisahan Abu Nawas.
Dan dari cerita di atas dapat disimpulkan bahwa kegelisahan tak menjadi alasan
untuk menyerah dalam setiap masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar